Setiap manusia di dunia ini pasti punya cita-cita akan menjadi apa dia ke depannya. Ketika kecil, cita-cita dibangun sedemikian rupa, ditaruh setinggi-tingginya, bahkan bisa dikategorikan ke dalam sesuatu yang mustahil, karena ‘ia’ tak dapat dicapai atau ‘ia’ tak mungkin dapat digapai dan diraih pada saat itu.
Namun demikian, itulah seni dari sebuah cita-cita. Dimulai dari sebuah mimpi yang tanpa berpikir panjang, tanpa persiapan, itu muncul sendiri di dalam otak pikiran kita.
Ya. Mimpi. Semuanya berawal dari mimpi.
Dulu keika saya masih kecil, saya punya cita-cita untuk menjadi koki. Hahahaha.
Lucu rasanya seorang anak cowok menjadi koki. Apalagi koki terkenal pada jaman itu yang sering muncul di tv memang menjadi tontonan favorit ibu-ibu. Saya sendiri memang mau tidak mau karena masih kecil, apa yang menjadi tontonan orang tua, saya pun ikut nonton. Adapun setiap hari sabtu pagi, dimana ibu-ibu sedang memasak, sedang beres-beres rumah, sebagai seorang anak kecil yang baik, tentu saya pasti merepotkan kalau minta ini itu. Akhirnya, saya menonton acara memasak. Sekali dua kali, awalnya biasa-biasa saja. Lama kelamaan itu menjadi suatu kebiasan dan bahkan hobi. Bagaimana tidak, tontonan yang demikian memang menarik perhatian dari berbagai kalangan umur. Apalagi mengangkat tema “makanan”. Oleh karena itulah, saya merasa nyaman dan tertarik untuk meraih profesi ahli masak (koki-red) pada masa itu (waktu itu saya masih duduk di bangku taman kanak-kanak).
Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada cita-cita saya selanjutnya. Saya yakin anak-anak seumuran saya yang lainnya juga pasti mengalami hal yang sama. Ini adalah wilayah Indonesia, negara yang sedang berkembang. Pembangunan ekonomi tidak merata. Tidak seperti di luar negeri yang kebanyakan orang tua akan langsung melihat peluang sebuah cita-cita seorang anak, dan menghidupinya untuk kemudian menjadi kenyataan di masa depan. Disini, di Indonesia, karena ekonomi keluarga saya bukan termasuk “ekonomi kipas-kipas”-- yang mana ketika tanggal tua orang-orang seperti itu tetap bisa berpikir jernih, karena uang mash melimpah –
Akhirnya saya hanya bisa menjalani hidup sebagaimana mestinya tanpa memikirkan lagi sebuah cita-cita yang saya katakan ketika saya duduk di bangku kanak-kanak.
Ketika bangku Sekolah Dasar merupakan suatu keharusan yang ditempuh dalam sistem pendidikan di negara ini, saya mulai belajar banyak hal. Mulai dari menghitung, membaca, menulis, dan disisipi dengan pelajaran-pelajaran dasar lainnya. Saat itu saya masih ingat, betapa sulitnya saya mengeja dan membaca kata-kata. Berhitung pun saya tidak menggunakan sempoa ataupun kalkulator. Bapak saya membuatkan batang-batang hitung yang kecil-kecil, ukuran 10 cm, dari bahan bambu. Saat itu saya membawanya ke sekolah setiap hari untuk pelajaran berhitung. Sungguh sangat miris kalau dipikir-pikir, namun itu adalah salah satu kenangan terindah yang pernah membekas di dalam pikiran saya.
Hari demi hari saya lewati di sekolah, sampai pada akhirnya saya bisa membaca, menulis, dan berhitung dengan lancar. Lambat laun, batang-batang hitung yang saya bawa tidak pernah saya keluarkan lagi dari dalam tas. Hanya sebagai pelengkap saja kalau-kalau diperlukan. Saat itu saya duduk di kelas 2 sekolah dasar. Dan saya sudah lupa dengan kata ‘koki’ yang saya ucapkan dan saya impikan ketika duduk di bangku kanak-kanak. Ya. Namanya juga anak kecil, begitu banyak cita-cita yang ada dikepalanya. Mudah berubah seiring berjalannya waktu, tergantung apa yang dia suka saat itu. Mungkin, seorang anak kecil bisa memimpikan menjadi 5 orang profesional yang berbeda-beda dalam satu hari.
-to be continued-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar