Saat
ditanya lagi, “mau jadi apa kalau sudah besar nanti?”. Saya pun menjawab, “mau
jadi sopir truk”. Tuing tuing!!!! Hello..... ada apakah gerangan dengan saya??
Mungkin itu yang ada di benak beberapa orang dewasa pada waktu itu. Menurut pandangan
mereka, seorang sopir truk adalah pekerjaan yang membutuhkan keahlian dalam
menyetir, dan sekolah bukan merupakan suatu keharusan untuk menjadi sopir truk
pada masa itu. Sayapun berpikir, “memangnya,, apa salahnya dengan sopir truk??”
Kalau
saya melihat di acara televisi maupun di kehidupan nyata, tidak ada salahnya
kan jadi sopir truk? Bayangan saya pada masa itu, rasanya keren bisa
mengendarai kendaraan yang besar. Seperti Power Rangers. Ya. Power Rangers
memang sedang menjadi idola anak-anak pada jaman itu. Kalau dilihat dari sudut
pandang anak kecil, robot yang dinaiki personel Power Rangers kan agak-agak
mirip dengan truk yang sering berlalu-lalang di jalan raya. So, bagi saya pada
waktu itu, nggak ada salahnya kan jadi
sopir truk. Itulah cita-cita saya. Namun tidak untuk orang-orang terdekat
saya.
Pandangan
orang tua pada umumnya juga pasti sama apabila anaknya memimpikan ingin menjadi
sopir truk, penjual di pasar, tukang bangunan, dan lain-lain. Apalagi pada usia
yang masih sangat muda. Mampu atau tidak mampu ekonomi orang tua untuk
membiayai anaknya mengeyam pendidikan di sekolah, pastilah mereka akan
mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Di dalam lubuk hati mereka yang paling
dalam, orang tua juga memiliki cita-cita untuk anaknya, akan menjadi seperti
apa buah hatinya di masa yang akan datang. Tidak jarang seorang anak akan
dimarahi orang tuanya hanya karena cita-citanya yang tidak sesuai dengan
keinginan orang tuanya. Namun demikian, masih ada segelintir orang tua yang
ingin anaknya sukses, mau jadi apapun mereka, asalkan mereka sukses, bisa
membanggakan orang tuanya, mereka pasti akan mendapat dukungan penuh. Akan
tetapi sebuah cita-cita anak kecil, sering dipandang sebelah mata oleh orang
dewasa. Saya pernah membaca komik strip buatan seorang mahasiswa. Saya
samar-samar dengan tokoh utama dalam cerita itu, namun sebagian besar saya
masih ingat isi ceritanya.
Pada
suatu hari ada seorang anak bernama Bejo. Dia suka menggambar (namun gambarnya
tidak bagus-bagus amat). Dia waktu itu masih duduk di bangku kelas 5 SD. Saat
itu gurunya bertanya kepada murid-muridnya, “ayo sekarang kalian menggambar
cita-cita kalian dan menerangkannya di depan kelas.”
Semua
murid pun mulai menggambarkan cita-cita mereka, ada yang jadi dokter, ada yang
jadi tentara, ada yang jadi guru, ada yang ingin jadi pembalap, ada ingin jadi
orang terkenal, dan lain-lain. Sampai pada giliran Bejo, “Jo,, kamu pengen jadi
apa besok gedhe?” tanya Pak Guru.
Dengan
yakin dan penuh antusias Bejo menjawab, “saya ingin jadi tukang cat, Pak”.
Sontak
semua teman-teman nya tertawa, Pak Guru pun juga tertawa, “kamu lucu Bejo...”
Cerita
pun berlanjut ke dua puluh lima tahun kemudian, ketika Pak Guru sudah beruban
dan sedang duduk santai di teras rumahnya. Di tangannya, dia memegang sebuah koran pagi. Disana tertulis headline news dengan huruf font ukuran jumbo
pada judulnya, Bejo si Tukang Cat.
Ya.
Bejo kemudian benar-benar menjadi seorang tukang cat profesional. Dia mencat
pada media kain kanvas. Istilah profesionalnya, dia adalah seorang pelukis. Pak
Guru hanya manggut-manggut membaca
berita Bejo yang merupakan muridnya 25 tahun silam. Terucap gumam kekaguman keluar
dari mulutnya, “hmm... Bejo... Tukang Cat.”
Kalau anda jadi salah satu teman Bejo yang mentertawakan dia 25 tahun yang lalu
di ruang kelas itu, apa yang anda rasakan? Bangga? Pasti. Malu? Itu lebih
pasti! Anda kemungkinan besar akan malu kalau ingat dulu pernah mentertawakan
cita-citanya Bejo.
Ya.
Itulah realita kehidupan saat ini. Sebuah cita-cita dipandang sebelah mata oleh
sebagian besar orang. Padahal akan menjadi apa dan seperti apa kita nantinya,
nggak ada satu orang pun yang mengetahuinya.
Kala
itu, ketika saya di beri pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya, “cita-cita-mu
apa kalau sudah besar nanti?”
Entah
apa yang merasuki pikiran saya, saya lupa kejadian detailnya, namun yang saya
ingat, saya menjawab dengan mantab, “aku ingin jadi tentara.”
Wow!
Amazing kan?? Sampai
sekarang saya tidak ingat kenapa saya bisa berubah pikiran dengan cepat.
Tentara,
pegang senjata. Melawan musuh dan membela negara. Mungkin karena image SUPERHERO yang dibawanya itu membuat saya berpikir untuk menjadi
tentara. Dan cita-cita ini pun terus saya pegang hingga ± 3 tahun lamanya
(walaupun sebenarnya ada sesuatu di dalam diri saya yang menginginkan profesi
lainnya pada saat itu. Namun saya mengesampingkannya. Entah karena saya takut untuk mengungkapkanya atau karena saya tidak
tau apa yang saya inginkan di kala itu)
***to be continue....***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar