Jumat, 13 Juli 2012

Cita-cita yang (tak) lekang oleh ‘WAKTU’ (2)


Saat ditanya lagi, “mau jadi apa kalau sudah besar nanti?”. Saya pun menjawab, “mau jadi sopir truk”. Tuing tuing!!!! Hello..... ada apakah gerangan dengan saya?? Mungkin itu yang ada di benak beberapa orang dewasa pada waktu itu. Menurut pandangan mereka, seorang sopir truk adalah pekerjaan yang membutuhkan keahlian dalam menyetir, dan sekolah bukan merupakan suatu keharusan untuk menjadi sopir truk pada masa itu. Sayapun berpikir, “memangnya,, apa salahnya dengan sopir truk??”
Kalau saya melihat di acara televisi maupun di kehidupan nyata, tidak ada salahnya kan jadi sopir truk? Bayangan saya pada masa itu, rasanya keren bisa mengendarai kendaraan yang besar. Seperti Power Rangers. Ya. Power Rangers memang sedang menjadi idola anak-anak pada jaman itu. Kalau dilihat dari sudut pandang anak kecil, robot yang dinaiki personel Power Rangers kan agak-agak mirip dengan truk yang sering berlalu-lalang di jalan raya. So, bagi saya pada waktu itu, nggak ada salahnya kan jadi sopir truk. Itulah cita-cita saya. Namun tidak untuk orang-orang terdekat saya.

Pandangan orang tua pada umumnya juga pasti sama apabila anaknya memimpikan ingin menjadi sopir truk, penjual di pasar, tukang bangunan, dan lain-lain. Apalagi pada usia yang masih sangat muda. Mampu atau tidak mampu ekonomi orang tua untuk membiayai anaknya mengeyam pendidikan di sekolah, pastilah mereka akan mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Di dalam lubuk hati mereka yang paling dalam, orang tua juga memiliki cita-cita untuk anaknya, akan menjadi seperti apa buah hatinya di masa yang akan datang. Tidak jarang seorang anak akan dimarahi orang tuanya hanya karena cita-citanya yang tidak sesuai dengan keinginan orang tuanya. Namun demikian, masih ada segelintir orang tua yang ingin anaknya sukses, mau jadi apapun mereka, asalkan mereka sukses, bisa membanggakan orang tuanya, mereka pasti akan mendapat dukungan penuh. Akan tetapi sebuah cita-cita anak kecil, sering dipandang sebelah mata oleh orang dewasa. Saya pernah membaca komik strip buatan seorang mahasiswa. Saya samar-samar dengan tokoh utama dalam cerita itu, namun sebagian besar saya masih ingat isi ceritanya.

Pada suatu hari ada seorang anak bernama Bejo. Dia suka menggambar (namun gambarnya tidak bagus-bagus amat). Dia waktu itu masih duduk di bangku kelas 5 SD. Saat itu gurunya bertanya kepada murid-muridnya, “ayo sekarang kalian menggambar cita-cita kalian dan menerangkannya di depan kelas.”
Semua murid pun mulai menggambarkan cita-cita mereka, ada yang jadi dokter, ada yang jadi tentara, ada yang jadi guru, ada yang ingin jadi pembalap, ada ingin jadi orang terkenal, dan lain-lain. Sampai pada giliran Bejo, “Jo,, kamu pengen jadi apa besok gedhe?” tanya Pak Guru.
Dengan yakin dan penuh antusias Bejo menjawab, “saya ingin jadi tukang cat, Pak”.
Sontak semua teman-teman nya tertawa, Pak Guru pun juga tertawa, “kamu lucu Bejo...”
Cerita pun berlanjut ke dua puluh lima tahun kemudian, ketika Pak Guru sudah beruban dan sedang duduk santai di teras rumahnya. Di tangannya, dia memegang sebuah koran pagi. Disana tertulis headline news dengan huruf font ukuran jumbo pada judulnya, Bejo si Tukang Cat.
Ya. Bejo kemudian benar-benar menjadi seorang tukang cat profesional. Dia mencat pada media kain kanvas. Istilah profesionalnya, dia adalah seorang pelukis. Pak Guru hanya manggut-manggut membaca berita Bejo yang merupakan muridnya 25 tahun silam. Terucap gumam kekaguman keluar dari mulutnya, “hmm... Bejo... Tukang Cat.”

Kalau anda jadi salah satu teman Bejo yang mentertawakan dia 25 tahun yang lalu di ruang kelas itu, apa yang anda rasakan? Bangga? Pasti. Malu? Itu lebih pasti! Anda kemungkinan besar akan malu kalau ingat dulu pernah mentertawakan cita-citanya Bejo.
Ya. Itulah realita kehidupan saat ini. Sebuah cita-cita dipandang sebelah mata oleh sebagian besar orang. Padahal akan menjadi apa dan seperti apa kita nantinya, nggak ada satu orang pun yang mengetahuinya.

Kala itu, ketika saya di beri pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya, “cita-cita-mu apa kalau sudah besar nanti?”
Entah apa yang merasuki pikiran saya, saya lupa kejadian detailnya, namun yang saya ingat, saya menjawab dengan mantab, “aku ingin jadi tentara.”

Wow!

Amazing kan?? Sampai sekarang saya tidak ingat kenapa saya bisa berubah pikiran dengan cepat.

Tentara, pegang senjata. Melawan musuh dan membela negara. Mungkin karena image SUPERHERO yang dibawanya itu membuat saya berpikir untuk menjadi tentara. Dan cita-cita ini pun terus saya pegang hingga ± 3 tahun lamanya (walaupun sebenarnya ada sesuatu di dalam diri saya yang menginginkan profesi  lainnya pada saat itu. Namun saya mengesampingkannya. Entah karena saya takut untuk mengungkapkanya atau karena saya tidak tau apa yang saya inginkan di kala itu)


***to be continue....***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar